Hubungi Kami : Tlp. 021-7412566 . Fax 74709855

Peran PAI Merawat Keberagaman di Era Digital



Peran PAI Merawat Keberagaman di Era Digital

Tangsel. Lembaga kajian keagamaan Universitas Pamulang (LKK-UNPAM) mengadakan seminar international bertemakan “The Roles of Islamic Education in maintaining the inter-religious Diversity in The Digital Era” pada hari sabtu (15/12) di Auditorium Viktor Kampus UNPAM lantai 8. Seminar ini dihadiri oleh 5000 mahasiswa UNPAM, Stikes Widya Darma Husada, Stikes Kharisma Persada dan STMIK Ersha. Seminar ini juga dihadiri dari berbagai narasumber luar negeri seperti Prof. Dr. Mariam Ait Ahmed  dari Universitas Ibnu Tufail, Kenitra Maroko, Dr. Mohammed Al-Hosaini Al-Farq An-Nususy  Dosen  Al- Azhar Syarif University Mesir, Dr. Dina Imam Supaat dari University Sains Islam Malaysia. Sedangkan narasumber dalam negeri ada Dr. Mamat S. Burhanuddin dari Kasubdit Akademik Keagamaan Perguruan  Tinggi, dan Rektor UNPAM Dr. H. Dayat Sudayat, MM.

 

Acara diawali oleh sambutan ketua panitia seminar oleh Moh. Jazuli, S.Sos.I, M.Pd.I. Dalam sambutanya beliau mengatakan, bahwa acara ini merupakan penguatan visi dan Misi UNPAM. “Seminar ini adalah kelanjutan dari visi dan misi UNPAM, menjadi Univeritas unggul, humanis dan religius. Terima kasih atas dukungan, bantuan dari berbagai pihak dan mohon maaf jika ada yang kurang berkenan. Mohon doanya agar Fakultas Agama UNPAM bisa segera di buka” paparnya.

 

Sambutan juga datang dari Ketua Yayasan Sasmita Jaya sekaligus Pembukaan acara Seminar Internasional secara resmi yang disampaikan oleh DR. (HC). Drs. H. Darsono. “Hari ini merupakan hari spesial, yang berbeda dari seminar sebelumnya. Seminar ini mampu menghadirkan suasana keagamaan. UNPAM mempunyai jumlah mahasiswa terbanyak di Indonesia. Sebanyak 20.000 mahasiswa baru di UNPAM. Pendidikan harus bisa di akses oleh semua lapisan masyarakat, pemerataan pendidikan, terbebas dari kebodohan, memiliki wawasan, keterampilan, sehingga memiliki alternatif untuk bisa memperbaiki kehidupannya.  Kami ucapkan terima kasih atas kedatangan narasumber dari Mesir, Maroko dan Malaysia yang sudah hadir di UNPAM” ungkapnya.

 

Pembicara pertama disampaikan oleh Dr. Mamat Salamet Burhanudin, Kasubdit Pengembangan Akademik Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam. “Warna keagamaan saat ini, dengan pesan memperkenalkan keberagaman ke masyarakat dengan model yang pas, representatif, yang cocok dengan dunia sekarang. Disatu sisi untuk menggalakkan ilmu pengetahuan, tapi disisi lain ada pemahaman agama yang tidak mendukung dan menghalangi ilmu pengetahuan. Ada Warna keagamaan yang ditawarkan  oleh kelompok yang tidak memiliki keberagaman. Terlebih saat ini era medsos, semua informasi bisa di akses, di cerna, sehingga bisa mendapatkan sumber yang salah. Seorang artis, pelawak, preman bisa menjadi alim, menjadi tokoh agama, merasa dirinya paling benar, lebih pintar, mudah mengkafirkan, hanya berdasarkan informasi dari medsos tanpa melalui proses di lembaga pendidikan” tuturnya. Beliau melanjutkan, ada 6 prinsip nilai dasar integrasi ilmu umum dan agama. “6 prinsip itu adalah prinsip keintelektualan, intelegensia, keterbukaan, kekinian, keindonesiaan dan keshalehan” jelasnya.

 

Rektor UNPAM, H. Dayat Hidayat, MM juga menyampaikan, bahwa Indonesia mempunyai keragaman yang sangat luar biasa. “Keberagaman yang dimiliki dinegeri ini adalah sebuah anugerah. Perbedaan agama, suku, geografis, kondisi kepulauan, kondisi alam, membuat Indonesia menjadi masyarakat yang majemuk. Walaupun kita berbeda, tapi kita bangsa yang satu Indonesia, bhineka tunggal ika. Contoh keberagaman ada di UNPAM, semua mahasiswa dan dosen dari berbagai daerah, dan agama yang berbeda. Keharmonisan Indonesia bisa di lihat dari budaya yang beragama, tapi saling menghormati, saling mendukung, di lindungi oleh Islam karena rahmatan lil’alamiin” jelasnya.

 

Pembicara selanjutnya disampaikan oleh Dr. Dina Imam Supaat dari Fakulty of Syariah and Law,University Sains Islam Malaysia. Beliau menyampaikan tentang pemberdayaan perempuan. “Pendidikan merupakan hal yang penting dan wajib yang harus dimiliki oleh manusia termasuk perempuan. Berapa banyak perempuan muda yang sudah menikah kemudian bercerai, alasanya menikah karena ekonomi, kemiskinan, perempuan yang tidak mempunyai pendidikan akan nikah muda, pernikahan dengan cara yang tidak benar. Perempuan mempunyai tonggak untuk memberikan pendidikan kepada anak-anak dan lingkungannya. Dalam Islam, tidak ada diskriminasi pendidikan bagi perempuan” ungkapnya.

 

Prof. dr. Mariam Ait Ahmad dari Universitas Ibnu Tufail, Kenitra Maroko juga menyampaikan, bahwa Indonesia adalah bangsa yang plural. “Dengan nilai-nilai Islam, Indonesia yang plural bisa bersatu, harmonis, tidak terpecah belah, jika tidak nilai itu, maka Indonesianya bisa hancur terpecah belah. Dengan 6 agama di Indonesia, menunjukkan Indonesia saling menghormati, sangat demokratik. Berbeda dengan negara Perancis, negara sebagai pelopor sains dan teknologi tetapi melarang wanita muslimah berjilbab” terangnya. Beliau melanjutkan, keberagaman di Indonesia terlihat dari budayanya. “Di Indonesia ada Candi Borobudur yang di jaga dengan aman, ada masjid Istiqlal dan gereja Katedral yang berdampingan, disini ditemukan toleransi, ada pendidikan nilai, ada akhlak. Beragama tanpa akhlak tidak akan mengantarkan kepada Allah, dengan pendidikan akan ditanamkan nilai, akhlak dan moral yang diajarkan di Pesantren,” jelasnya.

 

Hal senada juga yang disampaikan oleh Dr. Mohammed Al-Hosaini Al-Farq An-Nususy, dosen dari Al- Azhar Syarif University Mesir. Beliau menyampaikan, bahwa Indonesia adalah bangsa yang ramah dan bisa menjaga perbedaan dan nilai-nilai toleransi. “Perbedaan itu adalah sunatullah, sebagaimana perbedaan dan keberagaman aspek alam semesta, perbedaan dan keragaman dalam aspek kehidupan, dan keberagaman dari aspek manusia. Perbedaan aspek manusia diantaranya perbedaan agama, perbedaan budaya, Islam mengakui perbedaan, pluralitas agama, Islam bersikap obyektif dalam  kehidupan, mempunyai pandangan positif ke agama lain. Dengan perbedaan itu semua, untuk membangun persatuan” terangnya dalam bahasa arab yang di translet oleh Dr. Andi Hadiyanto, MA.

 

Seminar international ini juga dimeriahkan oleh Band Swan dengan membawa lagu religi, penampilan tari Nirmala dari mahasiswi Prodi Sastra Inggris, penampilan tari Sampan dari mahasiswa prodi D-III akutansi. Pembacaan kalam ilahi yang merdu oleh Ust. Sofyan Hadi Musa, MA yang membuat takjub para narasumber, dosen dan seluruh mahasiswa. Hadir juga pengenalan program baru lembaga konseling dan development career yang disampaikan oleh Khoirunnisa, S.Psi., M.Psi dengan penuh semangat. (DEN)


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *